PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

INOVASI KURIKULUM  BARU, KELAS OUTDOOR DENGAN TAMAN

SEBAGAI SUMBER BELAJAR

BAGI SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS

BIDANG KEGIATAN

PKM-GT

 

Diusulkan Oleh:

Rahajeng Mifta         (209131413307/ 2009)

Fera Luxiana             (109131415212/ 2009)

Latih Yusdiansah      (209131415753/ 2009)

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

MALANG

2010


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Berawal dari rutinitas kegiatan belajar mengajar di sekolah tepatnya yang dilakukan bagi siswa menengah atas di kelas membuat kejenuhan dalam belajar. Pada hakikatnya, manusia mempunyai titik kejenuhan apabila dihadapkan pada suatu hal yang sama setiap harinya, contohnya adalah siswa. Setiap hari siswa dihadapkan pada suasana kelas yang begitu-begitu saja. Suasana tersebut adalah tembok putih, meja coklat, papan tulis, meja guru, atap putih, dan suasana kelas yang sudah umum. Hal inilah yang mendorong penulis untuk memikirkan bagaimana rutinitas kegiatan tersebut agar tidak terjadi kejenuhan. Kejenuhan tersebut juga dapat mengganggu proses belajar mengajar ketika guru berinteraksi dengan siswa. Gangguan tersebut dapat berupa kurangnya pemahaman siswa dalam menangkap materi yang disampaikan oleh guru.

Pembelajaran yang dilakukan  di kelas sudah diterapkan sehingga diperlukan suatu inovasi untuk belajar di luar kelas (outdoor).  Hal ini sejalan dengan usaha Pemerintah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan. Selain itu, inovasi diperlukan karena adanya keinginan beberapa siswa dalam perubahan sistem belajar mengajar dengan suasana yang baru. Perubahan ini tentunya harus disertai dengan usaha Pemerintah dan praktisi pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Menurut Tirtarahardja (2005: 37), tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.

Berdasarkan uraian di atas, penulis memberikan inovasi dalam sistem pembelajaran yaitu dengan penyusunan kurikulum. Kurikulum adalah semua kegiatan yang direncanakan tentang apa-apa yang akan diajarkan dan dengan cara bagaimana hal itu dapat diajarkan dengan berhasil (Ansyar, 1989: 12). Penyusunan kurikulum tersebut dengan menggunakan sistem taman yang berada di luar kelas (outdoor) sebagai sumber belajar.

Sasaran penyusunan kurikulum ini adalah siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Sekolah menengah atas (SMA) adalah jenjang pendidikan menengah pada pendidikan formal di Indonesia setelah lulus Sekolah Menengah Pertama atau sederajat. Sekolah menengah atas ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 10 sampai kelas 12. Penyusunan kurikulum tidak diarahkan kepada siswa pendidikan dasar (SD dan SMP) melainkan kepada siswa SMA karena tingkat kejenuhan siswa SMA lebih besar daripada siswa pendidikan dasar.   Berpijak dari uraian di atas, tim penulis mengajukan beberapa solusi dalam penerapan kelas outdoor dengan taman sebagai sumber belajar bagi siswa SMA. Arah atau sasaran penulisan akan disesuaikan kepada telaah pustaka dari sumber buku, internet, dan pengembangan pikiran inovatif.

Tujuan dan Manfaat

            Tujuan dan manfaat yang ingin dicapai dalam karya tulis ini adalah untuk mengetahui:

  1. Kondisi kekinian kurikulum saat ini.
  2. Solusi yang pernah ditawarkan atau diterapkan dalam penyusunan kurikulum.
    1. Gagasan yang diajukan
    2. Pihak-pihak yang dilibatkan dalam implementasi kurikulum baru.
    3. Sistematika dalam mengimplementasikan kurikulum baru.

GAGASAN

Kondisi Kurikulum Saat Ini

Kurikulum di Indonesia bersifat dinamis karena kurikulum selalu berubah dari waktu ke waktu. Hal ini ditandai dengan perubahan kurikulum 1968 sampai kurikulum 2006 yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP merupakan kurikulum yang saat ini sedang diterapkan di Indonesia. Reformasi kurikulum dilakukan pemerintah agar terjadi peningkatan kualitas pendidikan, bahkan para ahli kurikulum saat ini sedang merancang kurikulum baru yaitu Kurikulum Berbasis Karakter.

Menurut Hamalik (2008), ada dua pendapat tentang keadaan mutu pendidikan di sekolah-sekolah yaitu bahwa mutu pendidikan menurun karena dilihat dari tingkat kecakapan dan kepandaian berhitung sedangkan pihak lain menyatakan bahwa mutu pendidikan kita jauh lebih tinggi. Hal ini dibuktikan luasnya pengetahuan pra lulusan berhubung luas dan banyaknya mata pelajaran yang telah dan harus dipelajari.

Berdasarkan pendapat tersebut, dapat diketahui bahwa mutu pendidikan ada yang menurun dan ada yang meningkat.kejadian ini tergantung pada bagaimana kurikulum diterapkan di sekolah. Secara harfiah, kurikulum yang berasal dari bahasa latin berarti lapangan pertandingan. Menurut pengertian ini, kurikulum adalah suatu arena pertandingan, tempat pelajar bertanding untuk menguasai suatu pelajaran guna mencapai garis finis berupa diploma, ijazah, atau gelar kesarjanaan (Zais dalam Ansyar, 1998:8).

Dalam praktiknya, pelaksanaan kurikulum tidak mudah dan cukup rumit. Kerumitan itu meliputi penyusunan program kurikulum dan koordinasi pelaksanaan. Hal itu dapat dipermudah jika dilakukan peningkatan koordinasi oleh segenap orang-orang yang terjun dalam dunia pendidikan.

Solusi yang Pernah Ditawarkan atau Diterapkan Dalam Penyusunan Kurikulum

Pemerintah selalu berupaya dalam perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan. Tugas untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak dilakukan pemerintah saja tetapi juga praktisi pendidikan, kepala sekolah, dan guru. Adapun yang telah dilakukan selama ini adalah sebagai berikut:

  1. Pemerintah pernah mencanangkan kurikulum 1994, KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), dan lain-lain.
  2. Kepala sekolah dan guru-guru selalu memperbaiki dan mengevaluasi sistem pembelajaran dengan mengadakan rapat.
  3. Dinas pendidikan selalu melakukan hubungan kerjasama dengan pihak sekolah dalam penyusunan kurikulum.

            Namun demikian, upaya tersebut masih perlu adanya peningkatan untuk mencapai tujuan pendidikan yang maksimal. Dalam tingkat terkecil atau kelas, sistem pembelajaran dan suasana kelas kurang di perhatikan dan diterapkan dengan baik oleh pendidikan atau guru.Oleh karena itu, diperlukan adanya penyusunan kurikulum baru yang dapat menunjang proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan.

Gagasan yang diajukan

Penyusunan kurikulum baru dengan menggunakan taman sebagai kelas outdoor adalah suatu upaya untuk melakukan sistem belajar mengajar di taman. Interaksi belajar antara guru dan siswa serta pembelajaran juga dilaksanakan disana. Peranan taman dalam penyusunan karya tulis ini adalah sebagai sumber belajar dan mediator kesehatan. Dengan merujuk pada berbagai sumber dan telaah pustaka, penulis memiliki ide atau gagasan yang dapat mendukung dalam penyusunan kurikulum baru tersebut, yaitu sebagai berikut:

  1. 1.        Menciptakan Mata Pelajaran Baru

Penyusunan kurikulum ini menggunakan taman sebagai sumber belajar sehingga inovasi kurikulum baru adalah dengan menciptakan mata pelajaran baru. Mata pelajaran baru tersebut adalah ilmu taman. Ilmu taman ini sebagai penerapan dari adanya kelas outdoor. Selain itu, ilmu taman bisa menjadi pelajaran dalam sistem kelas selain kurikulum-kurikulum siswa SMA yang lain. Implementasi kedudukan ilmu taman dalam inovasi kurikulum baru adalah sebagai muatan lokal. Berdasarkan lampiran Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (dalam Tirtarahardja, dkk., 2005:275), muatan lokal adalah program pendidikan yang isi dan media penyampainnya dikaitkan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah.

Dalam pengertian muatan lokal tersebut, program pendidikan dikaitkan dengan lingkungan alam. Menurut Tirtarahardja (2008), lingkungan alam adalah lingkungan yang terdiri dari lingkungan hidup (biotik) yang meliputi tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia, dan lingkungan tak hidup (abiotik) yang meliputi tanah, air, dan udara. Hal inilah yang menjadi alasan mengidentifikasi ilmu taman kedalam muatan lokal. Identifikasi tersebut karena orientasi taman adalah sebagai lingkungan alam.

 Ilmu taman akan memiliki sub-sub bahasan yang akan bisa dipelajari. Adapun sub-sub bahasan tersebut adalah: (1) pengetahuan tentang keanekaragaman ekosistem di taman, (2) pengetahuan tentang tanah, pemupukan, dan cara perawatannya, (3) pengetahuan tentang manfaat belajar di taman, (4) pengetahuan tentang interaksi kupu-kupu dan bunga, (5) integrasi pembelajaran IPA, (6) pengetahuan tentang keindahan, dan sesuai dengan kebijakan sekolah maka sub-sub bahasan dapat ditambah. Mata pelajaran baru ini tidak sekedar memberikan ilmu kepada siswa untuk memahami dan mempelajari tentang taman saja tetapi sebagai upaya menciptakan lingkungan hijau di sekolah.

Pada ilmu taman ada sub bahasan etika lingkungan. Etika lingkungan pada dasarnya adalah perbuatan apa yang dinilai baik untuk lingkungan dan apa yang tidak baik untuk lingkungan. Hal ini bertujuan untuk mengubah pandangan siswa SMA agar memiliki kesadaran lingkungan yang nantinya dapat diwujudkan dalam tingkah laku sehari-hari.

Sasaran akhir dari terciptanya mata pelajaran baru adalah mewujudkan lulusan SMA beretika lingkungan yang dalam kepribadiannya dijiwai oleh semangat gemar menanam bunga, merawat tanaman, melakukan penghijauan, dan pencegahan terhadap pencemaran lingkungan.

Sistematika pembelajaran dapat dirancang sesuai dengan kebutuhan. Maksudnya adalah bisa dilaksanakan pada pagi hari, siang hari, atau sore hari. Model pembelajaran ilmu taman dapat dilihat pada bagan 1. Jika diletakkan pada pagi hari maka pembelajaran dilaksanakan di tempat terbuka dengan duduk menggunakan karpet dan membentuk huruf U. jika diletakkan pada siang hari maka kegiatan belajar mengajar dilakukan di taman dengan ruang tertutup supaya siswa tidak langsung terkena radiasi panas matahari dan apabila dilakukan pada sore hari maka dapat dilakukan setelah kegiatan intensif belajar.

  1. 2.        Melaksanakan Pendekatan Pembelajaran Aktif Berorientasi Pengajaran Alam Sekitar

Penggunaan taman sebagai sumber belajar tidak hanya untuk pelajaran ilmu taman saja tetapi juga berbagai mata pelajaran lainnya. Salah satunya adalah sebagai integrasi dari pembelajaran IPA seperti biologi, fisika, dan kimia. Belajar biologi tidak hanya menggunakan pendekatan pembelajaran secara teoritis saja, tetapi juga diperlukan pendekatan pembelajaran aktif. Misalnya, belajar biologi pada bab tanaman. Pembelajaran aktif disini dimaksudkan agar siswa tidak hanya mengenal tanaman secara teoritis saja menurut buku tetapi langsung mengamati komponen-komponen, bagian-bagian tanaman dan lain-lain di luar kelas. Proses pengamatan inilah yang menggunakan pendekatan pembelajaran siswa secara aktif.

Pendekatan pembelajaran aktif mengarah kepada pengajaran alam sekitar. Tirtarahardja (2005:201) menyatakan bahwa dengan pengajaran alam sekitar itu guru dapat meragakan secara langsung. Betapa pentingnya pengajaran dengan meragakan atau mewujudkan itu sesuai dengan sifat-sifat pengajaran. Hal ini sesuai dengan integrasi dari pembelajaran IPA. Dengan belajar biologi bab tanaman, buku tidak menjadi satu-satunya sumber belajar. Guru biologi dapat mengarahkan siswa untuk belajar di taman dengan mengobservasi komponen-komponen atau bagian-bagian bunga atau yang lain. Oleh karena itu, siswa dapat belajar biologi menggunakan alat peraga yaitu bunga atau yang lain.

Pengajaran alam sekitar memanfaatkan taman sebagai sumber belajar. Dengan memanfaatkan alam sekitar sebagai sumber belajar maka anak akan lebih menghargai, mencintai, dan melestarikan lingkungannya.

  1. 3.        Menggunakan Taman Sebagai Mediator Kesehatan dalam Proses Belajar Mengajar

Kegiatan manusia hampir pasti menimbulkan pencemaran. Pencemaran tidak dapat dihindari tetapi hal yang dapat dilakukan adalah mengurangi pencemaran, mengendalikan pencemaran, dan meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya. Pencemaran udara yang paling menonjol adalah semakin meningkatnya kadar CO2 di udara. Meningkatnya kadar CO2 di udara tidak dapat segera diubah menjadi oksigen, kecuali terdapat tumbuhan. Gas karbondioksida itulah yang dapat menyebabkan efek rumah kaca.

Pengurangan dan pengendalian pencemaran udara adalah dengan menanam tumbuh-tumbuhan. Penanaman tumbuh-tumbuhan ini diaplikasikan dengan membuat taman. Salah satu perwujudan dari inovasi kurikulum baru adalah dengan membuat taman di sekolah. Taman selain menjadi sumber belajar dari kurikulum ilmu taman dan mata pelajaran yang sudah ada juga dapat digunakan sebagai mediator kesehatan selama proses belajar mengajar berlangsung. Selain itu, konsep pembelajaran ilmu taman merupakan langkah awal penanggulangan pencemaran lingkungan secara edukatif di sekolah.

Pada dasarnya, taman merupakan tempat yang di dalamnya terdapat bermacam-macam tanaman misalnya macam-macam bunga atau yang lain. Taman dapat dijadikan sebagai tempat refleksi diri karena berada di taman dapat membuat pikiran menjadi jernih. Tempat refleksi diri maksudnya bahwa seseorang dapat menjadi tenang karena melihat bunga dengan warna beranekaragam. Selain itu, dengan adanya rumput-rumput di taman dapat membuat seseorang menghirup aromanya.

Peneliti The University of United Kingdom mengatakan bahwa zat yang terkandung dalam rumpu segar membuat orang merasa tenang dan bahagia. Zat yang keluar sebagai bau rumput segar diketahui sebagai rahasia penghilang stres. Aroma rumput yang tercium oleh hidung akan membuat kelenjar hippocampus dan amygdala aktif. Hal itu akan membuat bagian otak yang merespon keadaan stres menjadi aktif pula.

Taman memiliki manfaat baik dilihat dari rumput yang ada maupun bunga-bunga beranekaragam warna yang biasanya ditanam. Rumput di taman berwarna hijau. Rumput yang segar mempunyai zat yang dapat menghilangkan stres. Sedangkan manfaat warna hijau menurut Indrawan adalah: (1) menyejukkan saraf, (2) menyegarkan mata dan memberikan efek ketenangan dan kesembuhan, (3) radiasi hijau memperbaiki semangat tubuh dan jiwa secara cepat, (4) biasanya dapat menyembuhkan penyakit bronchitis, asma, batuk, rematik, dan pembengkakan dengan terapi warna hijau, dan (5) mengembalikan ritme halus untuk mencapai keseimbangan harmonis tubuh.

Bunga-bunga yang beranekaragam warna juga mempunyai manfaat keindahan. Adapun manfaat keindahan tersebut adalah: (1) memperhalus rasa, (2) mengasah kreativitas karena warna tersebut dapat membuat imajinasi terasah untuk kemudian dituangkan menjadi karya, (3) menambah semangat belajar, dan (4) menyegarkan pikiran karena dengan melihat keindahan bunga maka pikiran menjadi fresh.

Berdasarkan manfaat-manfaat tersebut maka taman menjadi mediator kesehatan selama proses belajar mengajar berlangsung sehingga siswa dapat belajar dengan baik.

Pihak-Pihak yang Dilibatkan dalam Implementasi Kurikulum Baru

Dalam implementasi kurikulum baru, ada beberapa pihak yang dapat membantu terwujudnya gagasan. Beberapa pihak tersebut sangat berpengaruh terhadap keberhasilan kurikulum. Hal ini dikarenakan setiap pihak memiliki peranannya masing-masing. Pihak-pihak tersebut tidak menjalankan peranannya masing-masing melainkan diperlukan adanya cooperation. Menurut Ahmadi (2007:101), cooperation adalah bentuk kerjasama dimana satu sama lain saling membantu guna mencapai tujuan bersama. Tujuan bersama tersebut adalah untuk mencapai keberhasilan terwujudnya inovasi kurikulum baru dalam perkembangan prestasi belajar siswa. Adapun pihak-pihak yang dapat membantu dalam implementasi kurikulum baru dan peranannya adalah sebagai berikut:

  1. Dinas Pendidikan terdiri dari pengawas sekolah dan ahli kurikulum. Berdasarkan Permendiknas No 12 tahun 2007, pengawas sekolah dalam kompetensi evaluasi pendidikan bertugas memantau pelaksanaan pembelajaran dan hasil belajar siswa serta menganalisisnya untuk perbaikan mutu pembelajaran. Sedangkan ahli kurikulum berperan dalam memberikan alternatif pengembangan kurikulum kelas outdoor dengan taman sebagai sumber belajar. Dinas pendidikan merupakan pihak pengontrol ketiga atas jalannya kurikulum baru.
  2. Dinas Pertamanan Kota sebagai the agent of solution. Maksudnya adalah orang-orang dari dinas pertamanan menjadi pusat solusi pembelajaran ilmu taman. Pihak dinas dapat mentransmisikan ilmunya kepada penjaga taman sekolah dan siswa sebagai sasaran kurikulum. Selain itu, antara Dinas Pertamanan Kota dan Dinas Pendidikan memerlukan koordinasi kerja dalam sistematika pembelajaran ilmu taman.
  3. Kepala sekolah sebagai pengontrol kedua atas jalannya kurikulum baru. Kepala sekolah berperan dalam mengkoordinasi guru, waka kurikulum, dan penjaga taman sekolah dalam menjalankan tugasnya masing-masing. Selain itu, juga memberikan dorongan dan bimbingan kepada guru-guru dalam mengimplementasikan ilmu taman.
  4. Penjaga taman sekolah bertugas dalam mengelola taman yaitu menjaga dan merawatnya.
  5. Waka kurikulum bertugas untuk penyusunan alokasi waktu bagi guru-guru yang mengajar ilmu taman dan guru-guru pada bidang studi lainnya yang akan menggunakan kesempatan belajar mengajar di taman. Hal ini dikarenakan agar jadwal mengajar atau proses pembelajaran di taman tidak terbentuk antara kelas yang satu dengan yang lain. Selain itu, waka kurikulum juga menentukan batas maksimal kelas yang bisa belajar di taman. Batas maksimal kelas yang dapat masuk tersebut dikondisikan sesuai dengan luas wilayah taman dan suasana belajar. Suasana belajar disini maksudnya adalah ramai tidaknya suasana belajar mengajar apabila terdapat lebih dari satu kelas yang belajar di taman. Waka kurikulum juga dapat membantu mengamati proses berjalannya kurikulum baru, kelas outdoor dengan taman sebagai sumber belajar.
  6. Guru sebagai pengontrol kesatu atas jalannya kurikulum baru. Tugas guru adalah tugas secara langsung mengarah kepada siswa. Dikatakan langsung karena guru bertatap muka dengan siswa dalam memberikan ilmu pengetahuan yang mengandung aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tugas guru dalam inovasi kurikulum baru adalah sebagai penerjemah kurikulum yang datang dari pihak pimpinan, mengembangkan, dan menyajikan kurikulum kepada siswa.
  7. Siswa sebagai sasaran akhir dalam implementasi kurikulum baru.

Pengontrol I, II, dan III secara bersama-sama melakukan analisis hasil pembelajaran atau proses belajar mengajar di taman. Adapun yang dianalisis adalah pengaruh taman sebagai sumber belajar dan pengaruh taman pada prestasi belajar siswa. Selain itu analisis hasil pembelajaran dapat dipertanggungjawabkan ke atas yaitu dari pengontrol I ke pengontrol II kemudian dari pengontrol II ke pengontrol III..


Sistematika dalam Mengimplementasikan Kurikulum Baru

Berdasarkan pihak-pihak yang terlibat dalam mengimplementasikan inovasi kurikulum baru, maka diperlukan sistematika agar kurikulum yang dirancang dari pihak pimpinan dapat diterima oleh siswa. Secara umum, kurikulum baru didapat dari pihak Dinas Pendidikan. Kemudian, diterima oleh Kepala Sekolah. Kepala sekolah memberikan informasi tentang kebijakan kurikulum kepada guru. Guru mengimplementasikan kurikulum tersebut kepada siswa. Sistematika ini disebut top down yang artinya kurikulum dirancang dari atas ke bawah.

Dari uraian di atas, penulis memberikan sistematika implementasi inovasi kurikulum baru, kelas outdoor dengan taman sebagai sumber belajar sehingga dapat diterima oleh siswa. Sistematika tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Rancangan kurikulum baru oleh Dinas Pendidikan yang dikoordinasi Dinas Pertamanan Kota. Dinas Pendidikan mengembangkan standar dan isi kurikulum baru.
  2. Informasi kurikulum baru ke sekolah-sekolah oleh pihak Dinas Pendidikan. dalam hal ini kepala sekolah selaku penerima informasi utama.
  3. Pertemuan kepala sekolah dengan guru-guru untuk membahas kebijakan yang berasal dari dinas pendidikan. Kemudian menganalisis sistem kurikulum baru dalam menentukan kebutuhan peserta didik. Analisis tersebut berupa pembuatan taman di sekolah, metode mengajar, bahan pengajaran, dan lain-lain.
  4. Pembentukan team guru atau pengajar Ilmu Taman yang berkoordinasi dengan Wakil Kepala Sekolah bagian kurikulum mengenai alokasi waktu guru mengajar. Guru ilmu taman dapat diambil dari guru mata pelajaran IPA karena ilmu taman berhubungan erat dengan IPA.
  5. Pengembangan silabus ilmu taman oleh guru.
  6. Kepala sekolah mengesahkan kurikulum baru dengan diketahui dinas pendidikan.
  7. Sistem inovasi kurikulum baru dimulai dengan pengenalan kurikulum kepada siswa.
  8. Saat inovasi kurikulum baru, pengontrol pertama wajib melaporkan analisis hasil pembelajaran kepada pengontrol kedua. Pengontrol kedua melaporkan kepada pengontrol ketiga. Pengontrol pertama, kedua, dan ketiga selalu melakukan perbaikan dan pengembangan kurikulum baru.

KESIMPULAN

Gagasan yang Diajukan

Penyusunan kurikulum baru dengan menggunakan taman sebagai kelas outdoor merupakan suatu upaya untuk melaksanakan sistem belajar mengajar di taman. Untuk mewujudkannya, penulis memiliki ide atau gagasan yang dapat mendukung dalam penyusunan kurikulum baru tersebut, yaitu sebagai berikut: (1) menciptakan mata pelajaran baru yaitu ilmu taman. Implementasi kedudukan ilmu taman dalam inovasi kurikulum baru adalah sebagai muatan lokal.

Ilmu taman akan memiliki sub-sub bahasan yang akan bisa dipelajari. Sistematika pembelajaran dapat dirancang sesuai dengan kebutuhan. Maksudnya adalah bisa dilaksanakan pada pagi hari, siang hari, atau sore hari, (2) melaksanakan pendekatan pembelajaran aktif berorientasi pengajaran alam sekitar. Pembelajaran aktif disini dimaksudkan agar siswa tidak hanya mengenal tanaman secara teoritis saja menurut buku tetapi langsung mengamati komponen-komponen, bagian-bagian tanaman dan lain-lain di luar kelas. Pendekatan pembelajaran aktif mengarah kepada pengajaran alam sekitar, dan (3) menggunakan taman sebagai mediator kesehatan dalam proses belajar mengajar.

Taman dapat mengurangi dan mengendalikan pencemaran udara, mengurangi pemanasan global, sebagai tempat refleksi diri karena berada di taman dapat membuat pikiran menjadi jernih. Selain itu, dengan adanya rumput-rumput di taman dapat membuat seseorang menghirup aromanya. Di dalam rumput terdapat zat yang dapat menghilangkan rasa stres.

Warna hijau pada rumput dapat menyejukkan saraf, menyegarkan mata dan memberikan efek ketenangan dan kesembuhan, radiasi hijau memperbaiki semangat tubuh dan jiwa secara cepat, biasanya dapat menyembuhkan penyakit bronchitis, asma, batuk, rematik dan pembengkakan dengan terapi warna hijau, serta mengembalikan ritme halus untuk mencapai keseimbangan harmonis tubuh. Hal itulah yang menjadi mediator kesehatan dalam proses belajar mengajar.

Teknik Implementasi Penyusunan Kurikulum Baru

1.Rancangan kurikulum baru oleh Dinas Pendidikan yang dikoordinasi Dinas Pertamanan Kota. Dinas Pendidikan mengembangkan standar dan isi kurikulum baru.

2.Informasi kurikulum baru ke sekolah-sekolah oleh pihak Dinas Pendidikan. dalam hal ini kepala sekolah selaku penerima informasi utama.

3.Pertemuan kepala sekolah dengan guru-guru untuk membahas kebijakan yang berasal dari dinas pendidikan.

4.Pembentukan team guru atau pengajar Ilmu Taman yang berkoordinasi dengan Wakil Kepala Sekolah bagian kurikulum mengenai alokasi waktu guru mengajar. Guru ilmu taman dapat diambil dari guru mata pelajaran IPA karena ilmu taman berhubungan erat dengan IPA.

5.Pengembangan silabus ilmu taman oleh guru.

6.Kepala sekolah mengesahkan kurikulum baru dengan diketahui dinas pendidikan.

7.Sistem inovasi kurikulum baru dimulai dengan pengenalan kurikulum kepada siswa.

8.Saat inovasi kurikulum baru, pengontrol pertama wajib melaporkan analisis hasil pembelajaran kepada pengontrol kedua. Pengontrol kedua melaporkan kepada pengontrol ketiga. Pengontrol pertama, kedua, dan ketiga selalu melakukan perbaikan dan pengembangan kurikulum baru.

Prediksi Hasil yang akan Diperoleh

Manfaat yang akan dicapai dalam penulisan karya tulis ini adalah membantu pemerintah dalam menyusun inovasi kurikulum baru. Pemerintah dapat menggunakan inovasi ini sebagai bahan pertimbangan dan bahan rujukan. Dengan penyusunan kurikulum baru yaitu menggunakan kelas outdoor dengan taman sebagai sumber belajar diharapkan dapat mengurangi kejenuhan siswa dalam proses belajar mengajar selama berada di kelas.

Manfaat inovasi kurikulum yang ingin dicapai bagi siswa yang lain adalah meningkatkan daya pikir dan kreaktifitas siswa dalam pengenalan lingkungan hidup di taman. Pengenalan lingkungan hidup di taman yaitu dengan mempelajari ilmu taman sesuai dengan alternatif yang penulis ajukan. Bagi lingkungan, maka dapat mengurangi pemanasan global karena adanya tanaman di taman dan dapat menciptakan lingkungan hijau di sekitar sekolah.

Manfaat bagi guru adalah guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dapat menggunakan taman sebagai sumber belajar. Hal ini sebagai aplikasi langsung pembelajaran IPA (biologi, fisika, kimia), contohnya pada pembelajaran biologi yang berkaitan dengan bunga. Aplikasi langsung yang dapat diterapkan adalah dengan mempelajari struktur bunga secara langsung

DAFTAR PUSTAKA

 Ahmadi, Abu. 2007. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Ansyar, Mohammad. 1989. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Arieh. 1983. Merencanakan Kurikulum Sekolah. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.

Departemen Agama. 2008. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.

Hamalik, Oemar. 2008. Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Indrakusuma. 1973. Pengantar Ilmu pendidikan. Malang: Usaha Nasional.

http://afewgoodwords. WordPress.com/2006/12/24/manfaat-terapi-warna/ [diakses 30 Januari 2010]

http://www.Kaskus.US/Showthread.PHP?T=2788577 [diakses 30 Januari 2010]

Sadiman, dkk. 2002. Media Pendidikan pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Syamsuri, Istamar. 2004. Biologi Untuk SMA Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Tirtarahardja, Umar. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.