BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perubahan yang begitu cepat mendorong manusia untuk mengembangkan potensi dirinya. Sasaran pendidikan sangat berhubungan dengan sekolah dimana sekolah berperan besar dalam kemajuan pendidikan. Kemajuan pendidikan tidak dapat lepas dari usaha peserta didik untuk belajar. Belajar sangat berguna agar peserta didik atau siswa memperoleh pengetahuan.

Berdasarkan uraian di atas, maka diperlukan suatu motivasi agar siswa dapat belajar dengan baik. Motivasi dapat berasal dari siswa itu sendiri dan orangtua serta guru. Banyak hal yang dapat diuraikan tentang peranan orangtua dan guru dalam memberikan motivasi belajar kepada siswa. Ruang lingkup yang menjadi pokok pembahasan yaitu konsep motivasi dan belajar, peranan orangtua dan guru, serta manfaat motivasi belajar.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka yang menjadi rumusan masalah adalah sebagai berikut:

  1. Apa konsep dari motivasi dan belajar?
  2. Bagaimana peranan orangtua dan guru memberikan motivasi belajar kepada peserta didik?
  3. Apa manfaat motivasi belajar?

C. Tujuan Penulisan Makalah

Adapun tujuan penulisan makalah adalah untuk mengetahui:

  1. Konsep dari motivasi dan belajar
  2. Peranan orangtua dan guru memberikan motivasi belajar kepada peserta didik
  3. Manfaat motivasi

BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Motivasi dan Belajar

Perkembangan IPTEK di dunia begitu pesat. Hal ini terbukti dengan semakin canggihnya program software Microsoft yaitu adanya Microsoft Word 2010. Selain IPTEK, dunia pendidikan pun tidak kalah ketinggalan. Berkat pendidikan, banyak lulusan-lulusan sarjana yang berdedikasi tinggi dengan kualitas personal yang baik, adanya perbaikan mutu sekolah baik di SD, SMP, maupun SMA, adanya peningkatan kualifikasi guru melalui program-program pelatihan, dan lain-lain. Dengan pendidikan, peserta didik atau yang lebih sering dikenal dengan nama “SISWA” menjadi pandai. Berawal dari ketidaktahuan, mereka bisa menjadi tahu dan memahami tentang diajarkan apa yang diajarkan di sekolah. Contohnya, mengetahui apa itu biologi, fisika, dengan mempelajari seluk beluknya. Pandai tidak cukup dengan mengetahui saja tetapi juga harus belajar. Belajar untuk memahami dan menghayati isi materi atau bahan pelajaran. Selain itu diperlukan motivasi agar belajar lebih menyenangkan .

Ada banyak konsep tentang apa itu motivasi. Menurut Hamalik (dalam Mustiningsih, 2009: 57), Motivasi dapat diartikan sebagai perubahan energi dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. Perubahan energi seseorang dapat berbentuk aktifitas nyata berupa kegiatan fisik. Sedangkan menurut Irwanto (dalam Mustiningsih, 2009: 57), motivasi sering disebut sebagai penggerak perilaku, penentu (determinan) perilaku dan konstruk teoritis mengenai terjadinya perilaku. Konstruk teoritis dapat berupa aspek-aspek pengaturan, pengarahan dan tujuan perilaku.

Motivasi dibedakan menjadi 2 macam yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi Intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif dan berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar karena dalam diri seseorang sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya dorongan dari luar. Motivasi belajar yang bersumber dari faktor ekstrinsik ada, jika anak didik mendapatkan tujuan belajarnya dari luar faktor situasi belajar dengan kata lain anak belajar karena hendak mencapai tujuan yang terletak di luar hal yang dipelajarinya.

Menurut Chaplin (dalam Mustiningsih, 2009: 45), belajar yaitu perolehan perubahan tingkah laku yang menetap sebagai akibat dari latihan dan pengalaman. Belajar juga sebagai proses memperoleh respon sebagai akibat adanya latihan khusus. Menurut Wittig (dalam Mustiningsih, 2009: 45), belajar yaitu perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam sgala macam (keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil dari pengalaman. Wittig juga mengemukakan bahwa ada 3 tahap fase belajar yaitu : (1) Tahap perolehan/ penerimaan informasi (acquisition), (2) Tahap penyimpanan informasi (storage), dan (3) Tahap mendapatkan kembali informasi (retrieval).

Belajar adalah suatu proses didalam kepribadian manusia, perubahan tersebut ditempatkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas. Definisi belajar menurut Hilhard Bower dalam buku Theories of Learning (1975). “Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecendrungan respon pembawaan kematangan”.

Menurut Gagne dalam buku The Condition of Learning (1977) “Belajar terjadi apabila sesuatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi. Sedangkan Morgan memberikan definisi belajar adalah “Setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman”. Sedangkan Drs. M. Ngalim Purwanto, MP memberikan definisi belajar dari beberapa elemen :

a) Belajar adalah merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik tetapi ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.

b) Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau tidak dianggap sebagai hasil belajar seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi.

c) Belajar adalah perubahan relatif mantap, harus merupakan akhir dari pada suatu periode waktu yang cukup panjang.

d) Belajar merupakan perubahan tingkah laku yang menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah, berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan ataupun sikap.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengarkan kata-kata, “belajarlah yang giat”, “belajar pangkal pandai”, dan lain sebagainya. Banyak dari kita yang salah mempersepsikan belajar sebagai kegiatan yang hanya membaca buku saja, berarti orang yang rajin belajar adalah orang yang rajin membaca buku. Belajar bukanlah dalam ruang lingkup itu saja. Belajar adalah suatu proses interaksi diri yang melibatkan fisik, psikis dan lingkungan untuk mencapai tujuan , yaitu adanya perubahan yang bersifat progressif (maju) dalam ranah kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik (perilaku).

Dengan memahami betul konsep tersebut, ternyata belajar itu sangat luas sekali dan tidak hanya terbatas pada “membaca” saja. Interaksi diri yang melibatkan fisik artinya adanya pengindraan yang bisa menunjang proses belajar tersebut. Psikis artinya adanya motivasi yang mendorong seseorang untuk belajar. Dan lingkungan, artinya kekondusifan environmental sangat dibutuhkan dalam belajar. Semua interaksi ini ditujukan agar pengetahuan seseorang, sikap (moral) dan tindakan bisa mengalami kemajuan.

Mustiningsih menjelaskan bahwa pada tahap perolehan informasi, siswa mulai menerima informasi sebagai stimulus dan melakukan respons terhadapnya sehingga menimbulkan pemahaman dan perilaku baru. Dalam tahap penyimpanan informasi siswa secara otomatis mengalami proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang ia peroleh ketika menjalani proses perolehan informasi. Untuk tahapan mendapatkan kembali informasi, siswa mengaktifkan kembali fungsi-fungsi sistem memorinya, misalnya ketika ia menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah.

Motivasi dan belajar apabila menjadi satu kesatuan maka akan bermanfaat bagi orang yang menggunakannya. Belajar merupakan suatu proses perbaikan kualitas diri sedangkan motivasi merupakan faktor pendorong untuk perbaikan kualitas diri, Maksudnya seseorang dapat dengan senang hati melakukan kegiatan apapun yang sedang dijalaninya.

B. Peranan Orangtua dan Guru

Belajar merupakan sesuatu yang menyenangkan apabila diikuti dengan motivasi yang tinggi yaitu motivasi belajar. Motivasi belajar dapat berasal dari faktor dalam maupun luar. Faktor luar ini merupakan faktor yang berasal dari lingkungan orang lain. Motivasi belajar akan sangat baik apabila faktor luar ikut di dalamnya selain faktor dalam. faktor luar juga akan sangat berpengaruh terhadap semangat peserta didik untuk belajar. Belajar tidak hanya mengandalkan kemampuan kognitif saja tetapi juga psikomotor dan afektif .

Menurut Bloom (dalam Tim Penyusun Materi Program Akta, 2003: 4), kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penganalisaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemampuan afektif merupakan kemampuan yang mengarah pada penguasaan sikap dan nilai. Sedangkan kemampuan psikomotor adalah kemampuan yang mengarah pada keterampilan seseorang . Jadi hasil belajar akan menjadi lebih baik apabila peserta didik mampu menggabungkan ketiga aspek tersebut. Faktor luar motivasi dapat berasal dari kemampuan orangtua dan guru. Orangtua dapat memberikan motivasi peserta didik di rumah sedangkan guru memberikan motivasi belajar peserta didik di sekolah. Keduanya mempunyai peranan yang sangat besar untuk keberhasilan belajar peserta didik.

Orangtua menjadi lingkungan pertama dalam memberikan motivasi belajar kepada anak karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapat pendidikan dan bimbingan. Selain itu, dikatakan lingkungan yang terutama karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga. Sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah di keluarga.

Orang tua dapat memberikan dukungan/ motivasi belajar kepada anaknya dengan kalimat-kalimat yang semangat contohnya “Jika kamu rajin belajar, nilaimu pasti akan bagus nak”. Dengan kalimat itu, maka dapat merangsang perkembangan potensi-potensi yang dimiliki anak kemudian membawa perubahan-perubahan yang diinginkan dalam  kebiasaan dan sikap-sikapnya. Sehingga anak akan termotivasi untuk selalu rajin belajar. Berikut ini adalah beberapa cara praktis yang dapat dilakukan orangtua untuk meningkatkan motivasi anak di sekolah (Schunk, Pintrich, & Meece, 208):

1) Menciptakan iklim rumah yang mendukung anak untuk belajar
Orang tua dapat menyediakan berbagai perlengkapan maupun permainan yang dapat mendukung anak untuk belajar, misalnya: komputer, buku-buku, puzzle, dan sebagainya. Dengan demikian, orangtua secara tidak langsung memotivasi anak dengan cara menstimulasi rasa ingin tahunya, serta mendorong anak untuk melakukan eksplorasi terhadap lingkungan sekitar.

2) Menyediakan waktu yang cukup untuk terlibat dalam kegiatan belajar anak
Selain menciptakan iklim rumah yang dapat mendukung anak untuk belajar, interaksi orang tua dengan anak ternyata juga dapat meningkatkan motivasi belajar anak. Hal ini dapat dilakukan dengan menemani anak belajar, menunjukkan perhatian terhadap kegiatan belajar anak, memberikan bantuan ketika anak menghadapi kesulitan, dan sebagainya. Sebagai partner anak dalam belajar, orangtua sebaiknya menunjukkan sikap yang hangat dan positif terhadap anak, misalnya dengan tidak memarahi anak ketika anak tidak dapat mengerjakan PR-nya dengan baik.

3) Memberikan penghargaan atau respon positif terhadap setiap prestasi anak
Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya: dengan memberikan hadiah atau pujian. Dengan demikian, anak merasa dihargai dan lebih termotivasi untuk melakukan sesuatu.

4) Mendidik anak secara demokratis
Kontrol yang terlalu ketat terhadap anak akan ‘mematikan’ motivasi anak. Secara umum, motivasi anak cenderung meningkat ketika orangtua mengizinkan anak untuk membuat keputusan sendiri, memperhatikan kebutuhan dan perasaan anak, serta menyediakan pilihan dan alternatif kepada anak. Mengkomunikasikan harapan dan keinginan orangtua kepada anak dalam bentuk saran, dan bukan dalam bentuk perintah.

Tetapi tidak semua tugas  memberikan motivasi belajar dapat dilaksanakan oleh orangtua dalam keluarga terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam ketrampilan. Oleh karena itu dikirimkan anak ke sekolah. Di sekolah, guru akan memberikan pengajaran dan pendidikan kepada anak serta motivasi-motivasi agar anak atau siswa semangat dalam belajar. Guru dapat memberikannya dengan cara yang berbeda-beda. Cara yang berbeda-beda ini yaitu dengan memberikan nasihat, dukungan,  memberikan contoh yang baik, memberikan hadiah, dan lain-lain.

Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa yaitu sebagai berikut:

1) Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siswa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.

2) Hadiah
Memberikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.

3) Saingan/kompetisi
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya dan berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.

4) Pujian
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian.  Pujian itu bersifat membangun.

5) Hukuman
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.

6) Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.

7) Membentuk kebiasaan belajar yang baik

8) Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok

9) Menggunakan metode yang bervariasi

10) Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran

C. Manfaat Motivasi Belajar

Motivasi dalam belajar mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan atau prestasi belajar siswa. Hal itu karena dengan motivasi, maka siswa mempunyai semangat atau dorongan untuk belajar. Semangat itulah yang membuat proses belajar menyenangkan sehingga siswa bisa menangkap isi pelajaran dengan mudah

Ada banyak manfaat yang diperoleh dengan adanya motivasi. Manfaat tersebut adalah sebagai berikut:

1) Motivasi sebagai pengarah tujuan dan penggerak tindakan
Kata “Motivasi” berasal dari Bahasa Inggris yaitu “MOTIVATION”. Perkataan asalnya ialah “MOTIVE” yang juga telah dipinjam oleh Bahasa Melayu/ Bahasa Malaysia yaitu MOTIF, yakni bermaksud TUJUAN. Di dalam surat kabar, ada pemberita menulis ayat “motif pembunuhan”. Perkataan motif disini maksudnya sebagai sebab atau tujuan yang mendorong sesuatu pembunuhan itu dilakukan. Oleh karena perkataan motivasi bermaksud sebab, tujuan atau pendorong, maka tujuan seseorang itulah yang menjadi penggerak utama untuk berusaha keras mencapai atau mendapat apa  yang diinginkannya secara negatif atau positif.

2) Motivasi sebagai pendorong
Tujuan atau motif sama fungsinya dengan matlamat, wawasan, aspirasi, hasrat atau cita-cita. Jadi, wawasan, cita-cita, impian, keinginan atau keperluan seseorang itu  merupakan pendorong utama yang menggerakkan usaha bersungguh-sungguh untuk mencapai apa yang dihajatkan. Lebih penting sesuatu yang ingin dicapai, dimiliki, diselesaikan atau ditujui, lebih serius dan lebih kuatlah usaha seseorang, sesebuah keluarga, organisasi, masyarakat atau negara untuk mencapai apa matlamat yang telah ditetapkan. Jadi, dengan matlamat atau hasrat yang lebih penting atau besar, lebih kuatlah pula dorongan atau motivasi seseorang itu untuk berusaha bagi mencapai matlamatnya.

3) Motivasi Sebagai darjah kesungguhan

Tahap kepentingan sesuatu yang seseorang ingin capai, memberi kesan terhadap tahap kesungguhannya berusaha. Sungguhpun masa untuk mencapainya agak lama, tetapi jika apa yang dihasratkan itu amat penting, ia akan terus tetap mempunyai keinginan atau kesungguhan untuk berusaha sehinggalah matlamatnya tercapai.

4. Motivasi sebagai stimulator

Berikut ada cuplikan kisah tentang motivasi:
Seseorang lelaki dan wanita yang sedang saling mencintai telah berjanji untuk hidup bersama dan berusaha dengan penuh kesungguhan untuk menjadi suami istri walaupun menghadapi berbagai halangan. Itulah sebabnya, banyak pasangan yang pergi nikah ke luar negara apabila ada halangan yang tidak membolehkan mereka mendapat sijil perkawinan di dalam negara atas sebab halangan undang-undang. Seperti kata pepatah Melayu “Nak, seribu daya. Tak nak, seribu dalih“. Maka, motivasi menjadi stimulasi atau semangat akibat rangsangan atau kegairahan terhadap sesuatu yang benar-benar diingini.

5. Motivasi sebagai pengarah perbuatan

Anak didik yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana yang diabaikan. Anak didik belajar pada bidang atau mata pelajaran tertentu karena ada sesuatu yang akan ditemukan.

Motivasi belajar tidak akan terbentuk apabila orang tersebut tidak mempunyai keinginan, cita-cita, atau menyadari manfaat belajar bagi dirinya. Oleh karena itu, dibutuhkan pengkondisian tertentu, agar diri kita atau siapapun juga yang menginginkan semangat untuk motivasi belajar dapat termotivasi.

Selain itu ada lima cara untuk meningkatkan motivasi belajar yaitu: Pertama, Bergaul dengan orang-orang yang senang belajar. Bergaul dengan orang-orang yang senang belajar dan berprestasi, akan membuat peserta didik gemar belajar.Kedua, Belajar apapun. Maksudnya adalah belajar secara formal dan nonformal yaitu bisa belajar tentang berbagai keterampilan seperti merakit komputer, belajar menulis, membuat film, belajar berwirausaha, dan lain-lain sebagainya.Ketiga, Belajar dari internet. Kita bisa memanfaatkan internet untuk bergabung dengan kumpulan orang-orang yang senang belajar. Banayak cara untuk belajar dari internet misalnya dengan mengikuti milis. Milis dapat menjadi ajang bertukar pendapat, pikiran, dan memotivasi diri.

Keempat, Bergaul dengan orang-orang yang optimis dan selalu berpikiran positif. Ada orang yang selalu terlihat optimis meski mempunyai banyak masalah maka dengan sendirinya peserta didik akan tertular semangat, gairah, dan rasa optimis jika sering bersosialisasi dengan orang-orang atau berada dalam komunitas seperti itu dan sebaliknya. Kelima, mencari motivator. Kadang-kadang seseorang butuh orang lain sebagai pemacu atau mentor dalam menjalani hidup,misalnya teman. Dengan demikian teman dapat membantu mengarahkan atau memotivasi belajar dan meraih prestasi.

Motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi siswa yaitu: (1) menyadarkan kedudukannya pada awal,proses dan hasil belajar; (2) menginformasikan kekuatan usaha belajar; (3)mengarahkan kegiatan belajar; (4) membesarkan semangat belajar; (5) menyadarkan proses belajar kemudian bekerja. Bagi guru yaitu: (1) membangkitkan, meningkatkan,memelihara semangat belajar siswa sampai berhasil; (2) mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas bermacam-macam yaitu ada yang acuh, tak memusatkan perhatian, dan ada yang bersemangat belajar; (3) meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu diantara beberapa peran yaitu sebagai penasihat,fasilitator, instruktur, teman diskusi, penyemangat, pemberi hadiah atau pendidik; (4) “unjuk kerja” rekayasa pedagogis maksudnya adalah semua siswa berhasil, “mengubah”siswa tak minat menjadi bersemangat belajar, siswa cerdas tak berminat menjadi semangat belajar

BAB III

PENUTUP

Perkembangan IPTEK di dunia begitu pesat. Hal ini terbukti dengan semakin canggihnya program software Microsoft yaitu adanya Microsoft Word 2010. Pembuatan program tersebut tentunya diperlukan motivasi belajar agar program bisa berhasil. Motivasi dapat diartikan sebagai perubahan energi dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. Perubahan energi seseorang dapat berbentuk aktifitas nyata berupa kegiatan fisik. Belajar merupakan sesuatu yang menyenangkan apabila diikuti dengan motivasi yang tinggi yaitu motivasi belajar.

Orangtua dapat memberikan motivasi peserta didik di rumah sedangkan guru memberikan motivasi belajar peserta didik di sekolah. Motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi siswa yaitu: (1) menyadarkan kedudukannya pada awal,proses dan hasil belajar; (2) menginformasikan kekuatan usaha belajar; dan (3)mengarahkan kegiatan belajar. Bagi guru yaitu: (1) membangkitkan, meningkatkan,memelihara semangat belajar siswa sampai berhasil; dan (2) mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas bermacam-macam yaitu ada yang acuh, tak memusatkan perhatian, dan ada yang bersemangat belajar.

DAFTAR RUJUKAN

Abidin. 2007. Formula Individu Cemerlang. Jakarta: Mizan Publika.

Indrakusuma. 1973. Pengantar Ilmu Pendidikan. Malang: Usaha Nasional.

Mustiningsih. 2009.Psikologi Pendidikan Buku Ajar. Malang: Penyusun.

Sutikno. 2007. Peran Guru dalam Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa, (Online), (http://www.bruderfic.or.id/h-129/peran-guru-dalam-membangkitkan-motivasi-belajar-siswa.html, diakses 13 Desember 2009).

Taidin Suhaimin. 2009. Definisi, Pengertian & Takrifan Motivasi, (Online), (http://www.ugmc.bizland.com/ak-ertimotivasi.html, diakses 29 Desember 2009).

Tim Penyusun Materi Program Akta. 2003. Perkembangan Peserta Didik. Malang: Tim Penyusun.