Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari beberapa pulau besar dan pulau kecil. Wilayahnya sangat luas dari Sabang sampai Merauke atau dari ujung Sumatra sampai ujung Papua. Letak geografis, perbedaan ras, dan perbedaan daerah menjadi keanekaragaman budaya Indonesia. Keanekaragaman itulah yang membuat Indonesia kaya akan kebudayaan. Tidak hanya di setiap pulau dan di setiap propinsi tetapi di setiap daerah biasanya mempunyai ciri-ciri khas sendiri dalam penggunaan bahasanya masing-masing. Penggunaan bahasa itulah yang akan dijadikan alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu bahasa yang digunakan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain ada yang berbeda. Misalnya bahasa daerah orang Madiun berbeda dengan bahasa daerah orang Banyuwangi atau bahasa daerah orang Jakarta berbeda dengan bahasa daerah orang Malang dan lain sebagainya. Tetapi walaupun banyak perbedaan penggunan bahasa daerah, Bahasa Indonesia tetap menjadi Bahasa Nasional yang selamanya tidak akan pernah diganti dan menjadi bahasa kesatuan untuk semua orang Indonesia. Begitu banyak ragam bahasa daerah di Indonesia dan tidak hanya kosakata dalam penggunaan bahasanya saja tetapi juga lafal pengucapannya itu sendiri. Ada yang lafal pengucapannya kasar tetapi ada juga yang lafal pengucapannya halus. Hal ini tergantung bagaimana nenek moyang dulu di setiap daerah dalam mewarisi kebahasaannya tersebut. Bahasa daerah pun diwariskan secara turun-temurun dan digunakan oleh generasi penerusnya.

Salah satu contoh bahasa daerah yaitu bahasa Osing. Bahasa Osing ini berasal dari Banyuwangi. Banyu artinya air dan wangi artinya harum. Jadi maksudnya adalah air harum. Bahasa Osing sendiri adalah bahasa daerah dari Suku Osing yang ada di Banyuwangi,Jawa Timur yang merupakan sebuah suku yang berawal sekitar tahun 1478 M( akhir masa kekuasaan Majapahit) yang kemudian menjadi Kerajaan Blambangan. Bahasa di setiap daerah mempunyai keunikannya sendiri-sendiri,tidak terkecuali Bahasa Osing Banyuwangi. Bahasa Osing ini mempunyai keunikannya sendiri dalam hal pengucapannya. Misalnya adanya diftong ai untuk vokal I yaitu “gedigi”( begini) dilafalkan “gedigai”, adanya diftong au untuk vokal u yaitu “gedigu” dilafalkan “gedigau”, adanya penambahan tulisan y pada bacaan seperti “bapak” dilafalkan “byapak” dan “Banyuwangi” dilafalkan “Byanyuwangi. Selain itu ada tingkatan penggunaan bahasa misalnya penggunaan bahasa kamu. Siro untuk lawan bicara yang seumuran, riko untuk yang di atas kita, dan ndiko untuk bicara dengan orang tua( bapak/ibu). Pada umumnya, orang Banyuwangi berbicara menggunakan Bahasa Osing dengan cara pengucapan yang kasar dan bahasa tersebut tidak mengenal ‘unggah-ungguhing basa’ atau ‘kromo’. Tetapi walaupun demikian,bukan berarti orang Banyuwangi adalah orang yang kasar dan tidak tahu unggah-ungguhing basa melainkan hanya karena kebiasaan dari bahasa daerah dan cara pengucapannya saja. Oleh karena itu, Bahasa Osing Banyuwangi merupakan salah satu bahasa daerah yang unik yang ada di Indonesia.