BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Dalam suatu diskusi baik antara kelompok kecil maupun kelompok besar tentu adanya pendapat atau saran yang berbeda. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas tentang teknik pengambilan keputusan kelompok sumbang saran dan nominal. Pengambilan keputusan dalam manajemen memegang peranan yang sangat penting penting, karena keputusan yang diambil oleh seorang manajer adalah hasil akhir yang harus dilaksanakan oleh mereka yang tersangkut dalam organisasi.
Sumbang saran sangat efektif digunakan dalam bidang periklanan. Secara normal, sumbang saran secara kelompok menghasilkan lebih sedikit gagasan dibandingkan dengan orang dengan jumlah yang sama bekerja masing- masing. Selain juga tidak ada evaluasi atau gagasan yang muncul kelompok tidak berarti melingkupi seluruh proses pemecahan masalah.
Menurut Gibson (1995: 291), sumbang saran adalah suatu teknik yang menciptakan kreativitas dengan cara mendorong penciptaan gagasan melalui diskusi yang tidak dikritik. Sumbang saran melibatkan serangkaian aturan yang kaku untuk mendorong pengeluaran gagasan sambil menghilangkan hambatan di dalam diri anggotanya, yang biasa muncul untuk diskusi kelompok secara berhadapan.Sedangkan teknik kelompok nominal adalah proses terstruktur ini mengharuskan anggota kelompok menulis gagasan/ide secara perseorangan, kemudian melaporkannya kepada kelompok.
Sumbang saran dan teknik kelompok nominal merupakan teknik pengambilan keputusan kelompok yang perlu untuk dipelajari. Oleh karena itu, penulis membahas konsep dari sumbang saran dan teknik kelompok nominal. Sehingga sesuatu yang belum diketahui dapat diketahui dan dipahami.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka yang menjadi rumusan masalah adalah:
1. Apa konsep dasar dari teknik pengambilan keputusan kelompok?
2. Bagaimana teknik pengambilan keputusan sumbang saran?
3. Bagaimana teknik pengambilan keputusan kelompok nominal?
4. Mengapa diperlukan teknik sumbang saran dan teknik kelompok nominal?

C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah adalah untuk mengetahui:
1. Konsep dasar dari teknik pengambilan keputusan kelompok
2. Teknik pengambilan keputusan sumbang saran
3. Teknik pengambilan keputusan kelompok nominal
4. Alasan diperlukan teknik sumbang saran dan teknik kelompok nominal

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Teknik Pengambilan Keputusan Kelompok
Menurut Oktobrima, ada teknik keputusan untuk membantu proses pengambilan keputusan kreatif dan modern antara lain: (1) Teknik-teknik kreatif, ada dua teknik dalam kelompok teknik kreatif yang dikenal dan digunakan secara luas yaitu: a) Brainstorming dikembangkan oleh Alex F. Obsorn pada
pokoknya teknik ini berusaha untuk menggali dan mendapatkan kreatifitas maksimum dari kelompok dengan memberikan kesempatan anggota untuk mengemukakan ide-ide nya. Beberapa kritik terhadap teknik tersebut antara lain: hanya dapat diterapkan pada masalah-masalah keputusan yang sederhana, sangat memakan waktu dan biaya, hanya menghasilkan ide-ide dangkal dan b) Sunectics tidak terkenal seperti Brainstorming. Teknik ini dikembangkan oleh Willian J. Gordon. Teknik ini didasarkan pada asumsi bahwa proses kreatif dapat dijabarkan dan diajarkan oleh karena itu teknik ini mencakup dua tahap dasar yaitu: membuat yang aneh menjadi lazim, membuat yang lazim menjadi aneh; (2) Teknik kelompok Nominal (Nominal Group Technique).
Pada makalah ini, ada dua teknik pengambilan keputusan kelompok yang dibahas yaitu teknik sumbang saran (Brainstorming) dan teknik kelompok nominal. Tetapi dijelaskan terlebih dahulu mengenai konsep dasar dari teknik pengambilan keputusan kelompok. Menurut Gibson (1995: 294), pengambilan keputusan adalah tanggungjawab bersama seluruh manajer tanpa batasan fungsional atau tingkatan manajemen. Setiap hari mereka dituntut untuk membuat keputusan yang membentuk masa depan organisasi atau masa depan mereka sendiri.
Pengambilan keputusan dalam manajemen memegang peranan yang sangat penting, karena keputusan yang diambil oleh seorang manajer adalah hasil akhir yang harus dilaksanakan oleh mereka yang tersangkut dalam organisasi. Menurut Terry dalam Syamsi (2000: 5), pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku dari dua alternatif atau lebih. Sedangkan menurut Syamsi (2000: 5), pengambilan keputusan adalah tindakan pimpinan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam organisasi yang dipimpinnya dengan melalui pemilihan satu di antara alternatif- alternatif yang dimungkinkan.
Menurut Syamsi (2000: 30), ciri dari keputusan yang perlu diambil oleh suatu kelompok adalah:

1. Apabila masalah atau tujuan yang ingin dicapai itu akan menyangkut kelangsungan hidup organisasinya.
2. Apabila masalah atau tujuan itu membawa risiko berat bagi organisasinya.
3. Apabila menyangkut berbagai aspek atau bidang dimana seorang diri tidak mungkin menguasainya dengan baik dan tidak cukup diberi masukan dari para ahli dalam bidangnya.
Teknik pengambilan keputusan sangat diperlukan karena untuk mengatur jalannya diskusi pada kelompok dalam menerima opini maupun saran dari kelompok lain. Jika dalam diskusi tidak terdapat aturan dalam pengambilan ide atau pendapat, maka hasil diskusi tersebut tidak akan maksimal serta anggota tidak dapat belajar dari ide-ide yang mereka terima. Selain itu, kreativitas kelompok tidak akan dapat muncul khususnya dalam hal mengemukakan pendapatnya.
Dalam melaksanakan teknik pengambilan keputusan kelompok, maka diperlukan suatu pemimpin yang dapat mengatur jalannya suatu diskusi. Salah satu tolok ukur utama yang biasa digunakan untuk mengukur efektivitas kepemimpinan seseorang yang menduduki jabatan pimpinan dalam suatu organisasi ialah kemampuan dan kemahirannya dalam mengambil keputusan. Selain itu efektivitas kepemimpinan seseorang diukur dari kecekatan, kemampuan mengambil keputusan yang rasional, dan logis berdasarkan daya pikir yang kreatif serta inovatif.
Oleh karena itu, teknik pengambilan keputusan harus dikuasai oleh orang-orang yang menduduki jabatan pimpinan apa pun bentuk, jenis, dan ukuran organisasi yang dipimpinnya. Pemimpin harus dapat mengambil keputusan secara kelompok ketika rapat berlangsung. Rapat pengambilan keputusan membutuhkan struktur dalam rangka memelihara perhatian yang difokuskan pada masalah. Struktur akan membantu disiplin pemecahan masalah. Sebagai contoh, beberapa peserta mungkin saja datang ke rapat dengan solusi untuk diusulkan. Pada waktu ini terjadi, kerja perlu untuk dikonsentrasikan pada proses pemecahan masalah. Cara yang paling baik untuk mengerjakan adalah mengikuti proses keputusan yang rasional. Proses keputusan yang rasional adalah sebagai berikut:
1) Pelajarilah/ diskusikan/ analisislah keadaan
2) Tentukan masalah
3) Tetapkan suatu sasaran
4) Nyatakan keharusan dan keinginan yang kuat
5) Munculkan alternatif-alternatif
6) Ciptakan kriteria evaluasi
7) Evaluasilah alternatif-alternatif
8) Pilih di antara alternatif-alternatif

B. Teknik Pengambilan Keputusan Sumbang Saran (Brainstorming)

Sumbang saran juga disebut sebagai urun pendapat. Sumbang Saran adalah proses berbentuk bebas yang menghasilkan potensi kreatif dari suatu kelompok melalui penggabungan. Kekuatan gabungan adalah dua jalan aliran. Pada waktu satu anggota kelompok menyuarakan sebuah gagasan atau ide, ini mengundang gagasan dengan mendorong munculnya gagasan dari semua anggota kelompok (Departemen dalam Negeri). Sedangkan menurut Gibson (1995: 291), sumbang saran adalah suatu teknik yang menciptakan kreativitas dengan cara mendorong penciptaan gagasan melalui diskusi yang tidak dikritik.
Sumbang saran adalah suatu cara untuk memperoleh sejumlah besar ide- ide dari sekelompok orang dalam waktu yang singkat ( Rawlinson, J.G, 1989: 51). Definisi ini mengandung tiga aspek yaitu sejumlah besar ide, sekelompok orang dan waktu yang singkat. Sejumlah besar ide akan bervariasi mulai dari ide yang benar- benar cemerlang sampai- sampai kepada jenis ide yang benar- benar liar, konyol, dan tidak berguna. Sekelompok orang adalah aspek berikutnya yang juga penting. Jumlah kelompok yang optimum untuk sesi sumbang saran ini adalah sekitar 12 orang. Dalam kelompok sejumlah ini, setiap orang akan mempunyai kesempatan untuk menyumbangkan ide- idenya.
Jumlah kelompok maksimum sebaiknya tidak lebih dari 20 orang. Dalam kelompok yang besar, aliran ide- ide itu akan sedemikian derasnya sehingga akan ada sebagian orang yang tidak dapat berkontribusi karena terpojok dalam situasi yang tidak memberikan kesempatan kepadanya agar leluasa. Pada sisi yang lain, jumlah minimum dari kelompok ini sebaiknya tidak lebih kecil dari 5 atau 6 orang termasuk dengan pimpinannya. Jumlah kelompok yang lebih kecil lagi dari itu akan menimbulkan kecenderungan sifat sopan santun yang berlebihan dan saling menunggu orang lainnya untuk berkontribusi.
Dalam waktu yang singkat adalah aspek terakhir yang harus diperhatikan dari definisi sumbang saran. Banyak manajer yang beralasan bahwa mereka tidak mempunyai waktu untuk menjalankan sesi sumbang saran, mereka harus selalu mengambil berbagai keputusan. Rawlinson, J.G (1989: 53) menyatakan bahwa dari pengalamannya, rata- rata jumlah aliran ide dalam seiap sesi sumbang saran akan menghasilkan lebih dari 100 buah saran dalam periode hanya dua puluh menit saja.
Menurut Liputo (1988: 64), prosedur diskusi urun pendapat adalah (1) jelaskan permasalahan dan tugas untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin persoalan; (2) jelaskan bagaimana tujuan itu dicapai; (3) jelaskan tiga dasar aturan urun pendapat; (4) anggota kelompok menuliskan dan memberikan pendapatnya. Komponen- komponen dalam urun pendapat meliputi hal- hal sebagai berikut: (1) pikiran- pikiran itu adalah kreatif dan asli; (2) anggota- anggota kelompok sedapat mungkin hendaknya sama tingkatannya.
Adapun prosedur sumbang saran yang lain adalah sebagai berikut:
1) Buatlah daftar semua gagasan yang ditawarkan oleh anggota kelompok. Jangan mengevaluasi atau menghakimi gagasan pada waktu itu. Jangan mendiskusikan gagasan-gagasan kecuali mungkin memberikan penjelasan singkat untuk mengklarifikasi pemahaman.
2) Sambut dengan baik gagasan “dari langit biru”. Karena selalu lebih mudah menghapusnya daripada mengakumulasikan. Pengulangan diperbolehkan. Jangan membuang-buang waktu memilah duplikasi.
3) Doronglah kuantitas. Semakin banyak gagasan, semakin banyak kemungkinan akan bermanfaat. Jangan terlalu cemas mengakhiri tahap ini. Jika telah mencapai puncaknya, biarkan kelompok istirahat, kemudian mulai lagi.

Menurut Salusu (2004: 242), teknik sumbang saran yang diperkenalkan oleh Osborn (1957) mengutamakan demokratisasi dalam menyampaikan pendapat melalui suatu persidangan yang relatif kecil, apakah itu persidangan kelompok atau panitia. Obsorn mencoba memberi beberapa petunjuk agar sumbang saran dapat berjalan dengan baik, yaitu tidak dibolehkannya menampilkan kritik sebelum semua pihak selesai berbicara. Semakin banyak pikiran yang masuk semakin baik. Peluang harus diberikan kepada setiap orang tanpa kecuali.
Pembicara berikutnya tidak boleh menanggapi pembicara sebelumnya, tetapi ia harus menyampaikan pendapat yang baru. Barulah setelah semua peserta pertemuan selesai berbicara, setiap ide yang sudah ditulis di papan, didiskusikan sambil memberi kesempatan bagi pencetus ide untuk membela, mempertahankan, mengajukan argumentasi yang meyakinkan, atau mungkin juga menarik ide itu apabila mulai tampak tidak akan bisa bertahan. Pada akhirnya, kesimpulan yang diperoleh lebih merupakan gabungan dari berbagai ide setelah melalui saringan yang umumnya tidak berlangsung lama.
Menurut Gibson (1995: 290), suasana yang memungkinkan berkembangnya kreativitas mesti dibina karena kelompok lebih cocok dibanding individu untuk keputusan tidak terprogram. Semua anggota harus berpartisipasi dan evaluasi awal mesti dihindarkan atas gagasan masing- masing anggota untuk mendorong partisipasi. Sumbang saran melibatkan serangkaian aturan yang kaku untuk mendorong pengeluaran gagasan sambil menghilangkan hambatan di dalam diri anggotanya, yang biasa muncul untuk diskusi kelompok secara berhadapan. Aturan dasarnya adalah sebagai berikut:
– Tidak ada gagasan yang aneh. Setiap anggota kelompok didorong untuk menyampaikan gagasannya.
– Setiap gagasan yang muncul adalah milik kelompok, bukan milik pribadi yang melontarkannya, sehingga anggota kelompok lainnya akan memakai dan melengkapinya.
– Tidak ada gagasan dapat dikritik. Tujuannya adalah menciptakan bukan mengevaluasi.
Sumbang saran sangat efektif digunakan dalam bidang periklanan. Di berbagai bidang lainnya, agak kurang sukses. Secara normal, sumbang saran secara kelompok menghasilkan lebih sedikit gagasan dibandingkan dengan orang dengan jumlah yang sama bekerja masing- masing. Selain juga tidak ada evaluasi atau gagasan yang muncul kelompok tidak berarti melingkupi seluruh proses pemecahan masalah.
Keberhasilan dalam pelaksanaan sesi sumbang saran akan sangat bergantung kepada penerapan dan pemantapan keempat jenis pedoman sebagai berikut:
1) Tunda penilaian menuntut keterlibatan semua orang termasuk sang pemimpin.
2) Lepas bebas berarti menyingkirkan ganjalan- ganjalan mental penghambat dan memungkinkan seseorang untuk mimpi dan berkhayal di seputar persoalan tersebut.
3) Kuantitas, Para peserta dirangsang sedemikian rupa agar dapat memproduksikan sebanyak mungkin gagasan- gagasan terlepas dari tingkat kualitasnya.
4) Saling menunjang. Dalam suatu rapat yang bersifat analitis, ide- ide orang lain itu dihormati dan dipersilakan untuk mengembangkan lebih lanjut ide- ide mereka sendiri. Saling menunjang ini memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan, pengembangan, dan pergantian oleh anggota- anggota kelompok di bawah pengendalian pemimpin pertemuan.
Keberhasilan pelaksanaan sesi sumbang saran dapat dinilai dari dua cara yang berbeda yaitu dari banyaknya jumlah gagasan yang dihasilkan dimana mungkin saja banyak diantaranya yang nampak agak konyol, liar, ataupun yang sudah pernah dilakukan. Sedangkan cara yang lain adalah dari kedalaman analisis akhir yang merupakan ujian yang sebenarnya.
Pemimpin dari acara sumbang saran merupakan anggota dari kelompok tersebut dan harus juga turut mempersiapkan kontribusi ide- ide mereka. Pemimpin turut memimpin jalannya sesi sumbang saran tersebut yaitu memastikan agar keenam tahapan dapat dilaksanakan dengan baik, menuliskan berbagai macam lontarn ide di dalam kertas- kertas dan juga menegakkan keempat pedoman yang harus dipatuhi.
Menurut Rawlinson (1989: 56), enam tahapan yang harus diikuti dalam pelaksanaan sumbang saran sebagai berikut: (1) rumuskan persoalan dan diskusikan; (2) rumuskan kembali persoalan dngan mekanisme “bagaimana cara untuk”; (3) pilih hasil rumusan ulang yang paling mendasar dan tuliskan dengan cara “Dengan cara apa saja kita akan dapat”; (4) lakukanlah sesi pemanasan; (5) laksanakan sesi sumbang saran yang sesungguhnya; dan (6) gagasan- gagasan yang paling liar.
Pemimpin harus benar- benar memiliki antusiasme dalam menjalankan teknik sumbang saran dan harus mempersiapkan diri untuk menularkan rasa antusiasme tersebut kepada para peserta yang lainnya. Suatu sifat senar humor juga amat penting karena tidak ada suatu hal yang lebih cocok daripada rasa humor dan rasa antusias.
Ada empat dasar yang perlu diperhatikan dalam memimpin kelompok yang melibatkan interaksi, yaitu sebagai berikut: (a) kritik harus dihilangkan. Menilai pendapat kelompok harus dihindari sampai semua pendapat telah diberikan, (b) pendapat- pendapat bebas bahkan radikal diterima, (c) makin banyak pendapat makin baik, (d) kombinasi dan perbaikan pikiran. Urun pendapat merupakan teknik yang memberikan sebebas- bebasnya kepada anggota kelompok untuk memberikan pendapatnya tanpa ragu- ragu karena takut dikritik dan sebagainya oleh orang lain.
Ada dua sasaran dalam proses pengevaluasian sumbang saran yaitu: (1) untuk mengidentifikasi beberapa ide yang baik dan mengimplementasikannya; dan (2) untuk mendemonstrasikan kepada para peserta bahwa tindak lanjut dari sesi sumbang saran itu telah dilaksanakan.

C. Teknik Pengambilan Keputusan Kelompok Nominal (The Nominal Group Technique/Ngt)
Teknik kelompok nominal (selanjutnya dipakai singkatan TKN) adalah salah satu teknik peran serta dalam pengambilan keputusan yang lebih jarang dipakai dibanding dengan teknik sumbang saran. Teknik ini dikembangkan oleh Dellbecq dan Van de Ven pada tahun 1968 (Delbecq, et all., 1975), dimaksudkan sebagai suatu cara untuk mengumpulkan pandangan dan penilaian perorangan dalam suasana ketidakpastian dan ketidaksepakatan mengenai inti persoalan suatu masalah, lalu mencari jalan penyelesaian yang terbaik.
Teknik kelompok nominal adalah proses terstruktur ini mengharuskan anggota kelompok menulis gagasan/ide secara perseorangan, kemudian melaporkannya kepada kelompok (Departemen dalam Negeri). Teknik mengurangi adanya penyesuaian sementara memaksimalkan partisipasi. Bentuk pembuatan keputusan ini adalah proses mengulangi pernyataan yang meminimisir penyesuaian (conformity) dan menggerakkan peserta untuk mengambil keputusan yang dapat mereka dukung. Langkah-langkah tersebut meliputi:
1) Setelah mendiskusikan tentang alternatif-alternatif, anggota menilai masing masing dengan menggunakan suatu skala angka dilawankan dengan kriteria yang sudah disetujui.
2) Nilai dilaporkan untuk tiap-tiap alternatif dan ditambahkan bersama-sama.
3) Alternatif dengan total nilai yang rendah dihilangkan dari daftar.
4) Alternatif-alternatif yang masih tinggal didiskusikan lagi, dinilai dan diringkas. Yang memperoleh nilai yang paling kecil dihilangkan dari daftar tersebut.
5) Proses ini diulang sesuai dengan keperluan sampai tinggal pilihan kelompok yang jelas.
Ada tiga elemen penting yang perlu dipahami apabila hendak menggunakan TKN. Pertama, harus ada hanya satu pertanyaan yang sudah dipikirkan secara masak-masak dan dirumuskan dalam satu kalimat, yang dapat dijawab secara jelas oleh para pemeran serta didalam kelompok. Kedua, ada sekelompok orang dengan tugas khusus dan memiliki keahlian mengenai masalah yang akan didiskusikan. Ketiga, pemimpin kelompok itu harus menguasai TKN. Tugasnya hanya menjadi fasilitator dan tidak mempengaruhi sidang, misalnya dengan mengajukan rekomendasi.
Sebelum sidang TKN dimulai diperlukan persiapan yang sunguh-sungguh. Pertanyaan sudah dirumuskan dalam satu kalimat karena teknik TKN adalah teknik satu pertanyaan tunggal. Dengan demikian, rumusan pertanyaan itu memainkan peranan sentral. Ia harus mampu dipahami untuk diberi respon yang tepat, tetapi tidak juga terlalu mendetail sehingga masih memiliki karakteristik abstraksi pada tingkat tertentu. Sebaiknya beberapa orang terlibat dalam perumusan pertanyaan tersebut.kalau perlu mereka dapat mengidentifikasi contoh jawaban terhadap pertanyaan itu. Jika diperlukan banyak pemikiran, jumlah peserta bisa membengkak. Untuk itu mereka dapat dibagi dalam beberapa kelompok.
Menurut Gibson (1995: 293), Teknik kelompok nominal adalah suatu teknik yang mendorong kreativitas dengan membawa orang bersama dalam rapat yang sangat terstruktur yang hanya sedikit sekali komunikasi verbal. Keputusan kelompok adalah jumlah matematis dari masing- masing individu. TKN telah mendapat pengakuan untuk bidang kesehatan, pelayanan sosial, pendidikan, industri, dan organisasi pemerintahan. Istilah TKN diambil dari peneliti sebelumnya yang berhubungan dengan proses yang menguimpulkan orang bersama tetapi tidak ada komunikasi verbal di antara mereka.
Pada dasarnya, TKN adalah rapat kelompok yang terstruktur terdiri dari individu duduk berkumpul tetapi tidak berbicara satu sama lainnya. Setiap orang menulis gagasannya di selembar kertas. Setelah lima menit, dilakukan saling tukar pikiran yang terstruktur. Setiap orang mengajukan satu gagasan. Seseorang yang ditunjuk sebagai notulen mencatat seluruh gagasan itu di kertas di depan seluruh anggota kelompok. Kesemuanya berlanjut sampai dengan tidak ada lagi gagasan yang dikemukakan. Diskusi masih juga belum ada.
Hasil dari fase pertama ini adalah sejumlah gagasan (biasanya 18 sampai dengan 25). Fase berikutnya adalah diskusi dan seluruh gagasan diperhatikan pengambilan suara dilakukan. Hal ini dicapai dengan cara menanyakan untuk klarifikasi atau menyatakan dukungan atas gagasan yang ada di kertas. Fase terakhir adalah pengambilan suara secara independen dimana setiap orang secara pribadi menyusun prioritas dengan peringkat atau pengambilan suara. Keputusan kelompok adalah jumlah matematis dari seluruh suara masing- masing individu.
Teknik kelompok nominal (Nominal Group Technique). Teknik ini dilakukan dengan jalan bahwa setiap individu diminta untuk menilai terlebih dahulu secara individual, lalu dikemukakan dalam kelompok untuk didiskusikan, dan keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak yang diambil melalui pilihan secara tertutup dan rahasia. Langkah-langkahnya adalah:
• Setiap anggota kelompok diminta untuk memberikan alternatif keputusan
• Setiap anggota kelompok kemudian diminta untuk mencatatkan kelebihan dan kekurangan dari ide yang dibuatnya
• Setiap anggota kelompok kemudian membacakan alternatif dan penilaian yang dibuatnya dihadapan anggota kelompok yang lain
• Seluruh anggota kelompok mendiskusikan setiap alternatif yang dibuat
• Dilakukan perhitungan suara untuk memilih alternatif yang dianggap terbaik
• Suara yang terbanyak dianggap sebagai alternatif keputusan yang diambil.
Menurut Syamsi (2000: 99), pertemuan kelompok nominal merupakan pertemuan kelompok struktural yang tugasnya sebagai berikut: Dalam pertemuan kelompok, masalah yang dihadapi disampaikan kepada mereka, untuk dimintakan tanggapan dan sarannya tertulis. Setelah itu masing- masing orang dimintakan menulis pokok idea tau pendapatnya di white board secara bergantian. Kemudian pendapat- pendapat yang telah tertulis pada white board itu dibicarakan bersama secara terbuka. Setiap ide dibicarakan sampai tuntas. Akhirnya kalau tidak ada kata sepakat bulat, maka perlu voting. Teknik kelompok nominal bersifat terbuka.

D. Alasan diperlukan Sumbang Saran dan Kelompok Nominal
Menurut Sule dan Saefullah (2008: 126), teknik curah ide (Brainstorming) dilakukan untuk memperoleh ide sebanyak-banyaknya dari berbagai pihak agar alternatif keputusan semakin banyak. Alternatif keputusan yang banyak paling tidak diharapkan dapat meminimalisir keterbatasan dalam pengambilan keputusan yang disebabkan karena keterbatasan informasi yang diperoleh maupun keterbatasan keahlian yang dimiliki. Teknik ini sangat sederhana untuk dilakukan, di mana setiap anggota kelompok dalam organisasi diminta untuk menyampaikan idenya secara bebas dan kreatif untuk kemudian dicatatkan.
Pada giliran berikutnya, seluruh anggota kelompok menilai setiap alternatif yang muncul hingga akhirnya didapatkan keputusan kelompok. Keuntungan dalam menggunakan teknik sumbang saran adalah adanya kebebasan dalam menyampaikan ide tanpa adanya unsur kritikan. Jika semua ide-ide tersebut ditampung secara baik oleh kelompok, maka akan menciptakan rumusan keputusan atau pemecahan masalah yang baik pula.
Keuntungan yang menonjol dari teknik sumbang saran adalah kebebasan untuk menyampaikan ide karena tidak ada kekhawatiran untuk dikritik atau dihentikan sebelum selesai berbicara. Selain itu, jumlah ide yang ditampung akan cukup banyak sehingga ada kemungkinan untuk menciptakan rumusan keputusan yang baik. Untuk dapat menikmati keuntungan itu pimpinan sidang harus memiliki cukup keterampilan sehingga ia dapat mengendalikan diskusi sedemikian rupa untuk tidak dimonopoli oleh satu dua orang saja. Para anggota juga akan banyak belajar, baik tentang etika, diskusi maupun dalam memahami ide-ide lain.
Kelemahan teknik sumbang saran adalah sulit untuk mengontrol pembicara yang menyimpang jauh dari sasaran organisasi atau membicarakan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan rencana keputusan yang akan dibuat. Ada pihak lain, seseorang dapat didesak oleh tekanan mayoritas untuk menyetujui satu keputusan, sungguhpun ia mengetahui bahwa keputusan itu mempunyai kelemahan- kelemahan. Sedangkan kelemahan yang lain adalah jika faktor emosional dan personal terlibat. Misalnya, seseorang merasa tersinggung jika idenya dikritisi, ditanggapi, dan lain sebagainya, sehingga teknik ini akan sangat efektif jika anggota organisasi atau kelompok adalah orang-orang yang terbuka untuk menyampaikan sesuatu sekaligus juga terbuka untuk dikritisi.
Dalam kebanyakan situsi, manajer mengetahui bahwa mereka harus memperoleh pendapat dari sejumlah orang dan harus berusaha untuk memperoleh beberapa pendapat persetujuan umum dari nilai- nilai pendapat tersebut. Salah satu contoh di dalam situasi dimana manajer mencari cara untuk menambah penjualan dan yakin ingin mengetahui pendapat- pendapat, agen- agen penjualan bagaimana cara ini dapat diselesaikan. Situasi ini menghendaki pemecahannya dan dalam beberapa hal pendapat umum harus diperhatikan untuk memecahkan persoalan. Oleh karena itu, dipakai teknik kelompok nominal.
Teknik ini direncanakan untuk memperoleh dan merevisi informasi yang sensitif dari satu kelompok. Dapat dibayangkan bahwa gambaran manajer dapat memperoleh pikiran- pikiran atau informasi dari agen penjualannya atau manajer lainnya dengan interview perorangan atau dengan mengedarkan daftar pertanyaan. Teknik kelompok nominal dipergunakan untuk mengidentifikasi keberatan- keberatan bahwa anggota kelompok mempunyai masalah yang mungkin dapat dibicarakan atau dengan kata lain teknik ini dipergunakan untuk mengidentifikasi kriteria dan halangan- halangan dimana anggota- anggota kelompok akan mempergunakan untuk mengevaluasi situasi itu. Jika digunakan dengan tepat, sumbang saran dan teknik kelompok nominal akan sangat berguna untuk meningkatkan kemampuan kreativitas kelompok, menciptakan gagasan, memahami masalah, dan mendapatkan keputusan yang lebih baik. Selain itu, meningkatkan kemampuan kreativitas kelompok sangat penting jika masing- masing individu dari berbagai sektor di organisasi mengumpulkan pertimbangan untuk menyusun tindakan yang sempurna bagi organisasinya.

BAB III
PENUTUP

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, teknik pengambilan keputusan sangat diperlukan karena untuk mengatur jalannya diskusi pada kelompok dalam menerima opini maupun saran dari kelompok lain. Misalnya teknik sumbang saran dalam hal kebebasan untuk menyampaikan ide karena tidak ada kekhawatiran untuk dikritik atau dihentikan sebelum selesai berbicara didalam diskusi kelompok. Sedangkan teknik kelompok nominal dipergunakan untuk mengidentifikasi keberatan- keberatan bahwa anggota kelompok mempunyai masalah yang mungkin dapat dibicarakan atau dengan kata lain teknik ini dipergunakan untuk mengidentifikasi kriteria dan halangan- halangan dimana anggota- anggota kelompok akan mempergunakan untuk mengevaluasi situasi itu.
Oleh karena itu, didalam diskusi kelompok sangat memerlukan kedua teknik tersebut agar mengetahui tingkat kreativitas baik dari kelompok itu sendiri maupun kelompok lain yang memberikan opini. Selain itu, suatu permasalahan tidak akan mendapatkan jalan keluar jika tidak ada pendapat atau opini untuk memecahkannya. Dalam hal ini setiap orang dapat berkesempatan untuk mengeluarkan kreativitasnya melalui informasi-informasi yang ditampung khususnya dalam forum diskusi kelompok.

DAFTAR RUJUKAN

(Online), (http://ellopedia.blogspot.com/2010/09/kelompok), diakses 23 Januari 2011.

(Online), (http://titik.dagdigdug.com/?p=28), diakses 23 januari 2011.

Departemen dalam Negeri. 2007. Modul 5 Rapat yang Efektif Diklat Teknis Administrasi Umum. (Online), diakses 23 Januari 2011.

Gibson, J, dkk. 1995. Organisasi Edisi kedelapan. Jakarta: Binarupa Aksara.

Liputo, Benyamin. 1988. Pengantar Manajemen. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Oktobrima, Meutia. 2009. Cara- Cara Pengambilan Keputusan, (Online), (http://tulisanmuti.blogspot.com/2009/11/cara-cara-pengambilan-keputusan), diakses 23 januari 2011).

Rawlinson, J.G. 1989. Berpikir Kreatif dan Sumbang Saran. Jakarta: Binarupa Aksara.

Salusu, J. 2004. Pengambilan Keputusan Stratejik. Jakarta: PT. Gramedia.

Sule, E.T. dan Saefullah, K. 2008. Pengantar Manajemen. Jakarta: Prenada Media Group.

Syamsi, Ibnu. 2000. Pengambilan Keputusan Sistem Informasi. Jakarta: Bumi Aksara.